Cari Blog Ini

Senin, 28 Desember 2009

Emosi yang Tak Cerdas

"Terima kasih …. semoga selamat sampai di tujuan..", tak harus menunggu 1 menit kantong bekas permen itu ada di depan paras manis Sasya. Tertegun sekejap karena sebelumnya dirinya sempat menikmati lagunya Titi Kamal yang dinyanyikan sang Pengamen dengan timbre cowok tentunya,

La lai la lai la lai 

Panggil aku si jablai
Abang jarang pulang
Aku jarang dibelai...

"Hiiii.....emang sich gw jomblo, tapi nggak segitunya lah, dasar pengamen alay...he2x..." Sasya tersenyum sendiri mendengar lagu itu sambil merenungi istilah cewek jablay dan cowok alay yang semakin sering masuk dalam benaknya.
Menurutnya penggunaan istilah-istilah tersebut telah menjadi standard penilaian yang nggak jelas dalam zaman yang makin nggak karuan ini. Tidak ada padanan kata yang tepat untuk menjelaskan dua istilah pergaulan modern itu karena dua kata tersebut menegaskan suatu gaya hidup yang hanya mengutamakan penampilan sebagai penilaian awal yang menjadi patokan. Bila kita ingin mengawali kesan yang baik di mata orang lain, maka tampillah juga dengan ukuran yang menjauhi kata-kata "tidaaak" dari orang itu. Namun rumitnya, orang lain itu siapa? Bagi seorang sarjana komunikasi seperti dirinya, patokan nilai jaman sekarang sudah menjadi pola pandang terhadap dunia yang tidak jelas juga kesefahamannya. Itu semua terjadi akibat saluran komunikasi sosial yang sudah sangat padat merayap seperti jalanan macet yang dilihatnya sekarang. Hukum dan norma yang berlaku seakan tidak berfungsi seperti lampu dan rambu lalu lintas yang dipajang sekedar untuk dilihat namun tidak bisa mengatur sinergi kecepatan semua kendaraan yang mengantar kepentingan-kepentingan manusia sampai ke tujuannya. Manusia sekarang susah diatur, ragam kepentingan sulit untuk berpadu. Semakin banyak manusia yang memahami isi dunia ini tidak pula berarti semakin banyak manusia yang menyadari bahwa dunia ini masih bulat atau sudah agak lonjong seperti telur ayam puyuh. Sopo ngerti?

Ah, memikirkan keruwetan teori itu membuat kepala Sasya pusing. Kehidupan manusia sekarang sudah parah, apalagi bagi seorang cewek seperti dirinya. Dalam usianya yang masih relatif muda, Sasya seringkali berganti-ganti penampilan. Suatu perilaku ekspresif yang menunjukkan bahwa dirinya masih termasuk seorang manusia yang belum begitu dewasa memandang makna kehidupan. Dari beragam analisa penampilannya itu, Sasya bisa menyimpulkan bahwa terbuka maupun tidak, seksi maupun tidak, anggun atau lebay...tetap saja banyak mulut cowok yang berkomentar macam-macam. Bahkan pernah suatu saat Sasya jalan bareng temannya dengan dandanan yang sangat wajar, tiba-tiba nongol kepala gundul meneriakinya dari dalam mobil Jazz merah "Heiiii.....JABLAY, godain kita dong!"

UUhhhhhh... salah apa dirinya ? Keruwetan aliran darah di kepalanya mulai bergolak, mengaduk sedikit demi sedikit perasaan kecewa terhadap kehidupan yang terasa tidak adil bagi dirinya. Mendadak saja memorinya memutar kenangan buruk dirinya bersama mantan tunangan yang begitu menghormatinya dalam kurun keindahan asmara selama tiga tahun. Perubahan drastis terjadi saat mendekati masa penantian terindah dalam hubungan mereka, Sasya tiba-tiba dicampakkan. Hanya gara-gara sebuah penilaian yang tidak jelas dari calon ibu mertuanya. Tanpa berkomunikasi terlebih dahulu dengan dirinya, sang ibu mulai melancarkan kritik pedas terhadap semua perilaku yang menurut diri Sasya memang sedikit demi sedikit berubah untuk kebaikan. Awal kemalangan itu terjadi menjelang saat lamaran, Sasya memutuskan untuk bekerja setelah dirinya lulus kuliah. Namun rupanya, pergaulan lingkungan kerja telah mempengaruhi sifat Sasya yang dulu pendiam dan rendah hati. Di mata calon ibu mertuanya, sosok Sasya tidak lagi terlihat seperti dewi kemayu. Tuntutan pekerjaan membuat sifat Sasya yang disiplin dan mandiri terbentuk dalam pribadi yang superior. Sasya sekarang melihat sesuatu dalam perspektif nilai guna, sehingga sedikit cacat dalam suatu hal dapat memancing emosinya meledak. Siapapun yang dekat dengan Sasya sekarang akan berkata bahwa dirinya galak.

Hmmm....sedemikian merosotkah persepsi publik terhadap citra dirinya ? Masihkah dirinya memiliki nurani? Ah, pasti orang - orang itu keliru. Buktinya manusia di depanku ini tahan beberapa menit mematung, memahat tampang kasihan agar terwujud interaksi belas asih diantara sang penyanyi dengan sang penikmat lagu. Pengamen ini pasti melihat aura kebaikan dalam wajahku, pikir Sasya. Kalau dirinya terlihat galak, tentunya si pengamen alay ini akan berlalu cepat dari semenjak dia menyodorkan kantung permen itu padanya. Buktinya juga dia tidak berbicara sepatah kata apapun untuk mengungkapkan keperluannya. Dia masih memandangi wajah Sasya sambil memancarkan pesan "hey, tak ada pengamen yang mau gratisan menyanyi". Yup, itulah pertanda masa materialistik-kapitalis berkuasa mandraguna.

Sambil berfikir dan gugup Sasya membuka dompet. Dicarinya sekeping logam seribuan yang tersisa. "Duh, dimana pula kusimpan", pikir Sasya. Jari - jari Sasya terus mengorek - orek kantung - kantung dompetnya, namun tidak jua dirinya menemukan kepingan uang tersebut. Sasya lalu berdiri menaruh dompetnya di kursi. Kedua tangannya kini merogoh kedua kantung saku rok kerja berwarna ungu yang dipakainya hari itu. "ah, ini dia..". Sekeping uang logam seribu rupiah akhirnya masuk juga ke dalam kantong permen lusuh itu. Pengamen itu pun cepat berlalu, mengedarkan kembali kantongnya menuju kebagian belakang bus sumpek itu.

Mata Sasya tanpa sadar mengikuti sekilas gerak pengamen itu. Dia membayangkan kantong pengamen itu pasti sudah penuh dengan uang receh. Apalagi kalau banyak orang yang memberi lebih banyak dari jumlah uang yang dia berikan. Ah, lagi - lagi jiwa Sasya bergolak, emosinya kembali tersulut saat mendadak muncul pendapat kritis dalam benaknya mengenai ketidakadilan sistem pemerataan yang bisa mendorong setiap kaum berlebih untuk berderma bagi kemajuan negeri ini. Dalam pandangan akal Sasya, semua pemilik uang di negeri ini hanyalah penjajah yang beralih rupa. Tidak ada satupun orang besar sekarang yang perlu dikenang kebaikannya. Yya..yah..bila mengenang kebaikan seseorang... tadi rasanya...

Sekejap mata Sasya tertumbuk pada sebentuk wajah. Wajah seorang pemuda yang sepertinya sangat dikenalnya. Dan ….oops ketika si pemilik wajah itu merasa diperhatikan dia tersenyum. Sasya ingat.. .. , wajah itu kan milik pemuda yang mempersilakan dia duduk tadi, yang rela memberikan tempat duduk untuk kenyamanannya sekarang. Sasya tersentak. Ia bahkan belum setidaknya menyapa dan mengenal pemuda baik itu. Dan lihatlah, meskipun ia tidak dibalas atas kerelaannya terhadap Sasya, ia masih ramah dengan senyumnya. Sasya malu. Senyum balasannya agak bersemu merah. Sasya semakin tak berani menengok ke belakang lagi beberapa saat.

"Permisi Mbak, Saya duluan yach .. di depan itu saya turun" ada bisik dibelakang telinganya, dan setipis raba di lengannya. Sasya tersentak kembali. Ia tahu pasti pemuda penolong itu. Tetapi ketika Sasya mendongak untuk memastikan, pemuda itu sudah lenyap di balik kerumunan orang yang sudah turun tadi. Sasya hanya melihat sang pemuda yang akan menyeberang jalan. Dia ingin melambaikan tangan. Namun mungkin tak ada gunanya lagi. Dia hanya berdoa semoga Tuhan membalas kerelaan sang Pemuda. Namun baru saja Sasya mengungkapkan sebait do’a yang biasa dipanjatkan jikalau ada rasa yang berkecamuk di hatinya. Pada kalimat:"Tuhan berikanlah kebaikan untuk dia…" selesai diucapkan, sebuah telapak tangan menepuk pundaknya. "Ma’af mbak, ongkosnya …". Sejenak Sasya kaget, namun sesaat itu pula Sasya bereaksi. Meraba lagi kantong tasnya untuk…"hah..???!!!. ufff….ya Tuhan..mamaa…dompetku..??" &***.

Saat itu, badan bis tersentak karena sang supir mengerem secara mendadak. Namun guncangan bis itu seakan tidak terasa oleh Sasya yang tiba-tiba merasa stres. Suasana mengharu biru tentang si pemuda yang tadi hadir di benak kepalanya, langsung lenyap tergantikan lagi oleh perasaan - perasaan yang hadir sewaktu dia memasuki bis kota yang pengap itu. Rasa risih dan malu pada sang pemuda tiba - tiba saja berubah menjadi perasaan muak, benci, kalut, resah, menyesal, beraduk menjadi satu gumpalan emosi yang sepertinya saat itu juga ingin menyeruak keluar dari dalam hatinya. Kali ini tidak ada lagi mekanisme pertahanan diri Sasya yang biasanya diam dan tenang kala menyikapi sebuah suasana yang sungguh tidak mengenakan. Kali ini kuasa diri Sasya sangat lemah, hingga tidak bisa lagi menahan mulutnya untuk berteriak, mengeluarkan segenap angkara murka yang sudah hadir mendesak di dada sejak menginjakkan kakinya di lantai bis kota itu.
"ccccooooppeeeettt…pa…cccooopppeeettt…!! !

Teriakan itu begitu keras terdengar beserta lantangnya kalimat yang meluncur begitu saja dari mulutnya yang mungil. Bibir merahnya yang basah seakan menjadi kering kesumba terbakar oleh hawa amarah yang keluar mengiringi kata - kata cemas yang baru saja diucapkannya. Wajahnya sekarang lebih jauh memerah daripada tadi sewaktu membalas senyuman pemuda itu. "Bajingan..!!!" umpat Sasya dalam hati. Sekelebat raut wajah pemuda itu kembali terbayang, namun kali ini bukan bayangan yang menghanyutkan dirinya. Walau bayang itu terupa dalam sebuah senyuman, bukanlah sebuah senyum manis yang mengawali dorongan hatinya untuk memberikan do’anya yang tulus tadi. Dalam pikirannya saat itu, sang senyum hadir bersama tampang seseorang yang penuh dengan kelicikan..

Sejenak Sasya tertegun dengan apa yang dipikirkannya saat itu. Tidak lama memang, namun hasilnya sungguh di luar dugaan orang - orang disekitarnya. Sasya berteriak lagi, lebih keras bahkan diiringi dengan tetesan air mata. "Cccoooopppeeeetttt…maaa..huuu…hhuuu..oraaannn g itu maaa…huu.."entah kenapa Sasya memanggil mamanya. Mungkin kedekatan diri dengan sang mama telah mempengaruhi banyak karakter individunya. Terbayang olehnya wajah seorang perempuan yang penuh dengan kelembutan, selembut belaian tangannya yang sering mengusap kepala Sasya di saat dia pulang dari kantor. "Mmmaaaammmaa…..ttoollonnnnggg maaa….laki - laki itu maaa…"tangisan Sasya makin keras. Sambil berdiri, Sasya berteriak sambil memejamkan matanya. Entah apa yang ingin dilakukan Sasya saat itu. Yang pasti tidak ada satupun penumpang di bis itu yang tidak kaget. Hampir semua pandangan mata menuju pada Sasya.

Namun perasaan Sasya tidak mampu bereaksi terhadap tatapan penumpang bis yang heran dan kasihan. Penglihatannya sudah tertutup oleh air mata yang tiba - tiba saja mengalir sangat deras. Kontrol diri terhadap lingkungannya sudah hampir tidak berbentuk lagi, tidak seperti sikapnya yang biasa tegar menghadapi aneka masalah dunia yang dia atasi setiap hari. Kepalanya menunduk. Dunia memang kejam, tidak pernah mau tahu kalau dirinya lelah menahan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dadanya. Dunia yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh mamanya, seorang wanita yang selalu mau menampung semua aliran rasa yang "bocor" mengalir begitu saja dari mulutnya. Mamanya akan selalu siap menampung semua kelelahan hatinya sambil mengusap - usap rambutnya dan lalu berkata "Kenapa nak?"

"Hei, kenapa? Kenapa Sasya harus menangis?" pikiran responsif Sasya baru muncul seketika. Pertanyaan itu membuatnya tiba - tiba sadar. Urat malunya baru bekerja merespon tatapan kasihan, aneh, sayang...bahkan sempat ada sensor motorik yang mengantarkan persepsi kekaguman pada dirinya..hah? (masih ada juga yang naksir dirinya dalam situasi seperti ini..?) Dilihatnya perlahan pemandangan dalam bis. Pada saat kepalanya terangkat terlihat ada seseorang yang menghampirinya, si kernet bis yang tadi menepuk bahunya. "Tenang mbak…" sang kernet berusaha menenangkan Sasya. Diraihnya bahu Sasya dan dibawanya untuk duduk kembali. Sasya menurut. Saat itu sebenarnya perasaan malu sudah begitu ketat menguasai dirinya. Hanya saja api kemarahan masih tetap menyala, emosinya berada dalam level paling rendah. Pikirannya masih belum bisa menghilangkan bayangan senyum jelek yang terus menyeringai hingga membuatnya menangis tadi. "Ccooppeeettt pa.., dompet saya hilangaa..paaa… huuuu..."

"Emh, ma'af ya mbak...Sabaaaar. Mbak kelihatannya lelah. Ini dompet mbak. Barusan saya ambil dari bawah tempat duduk mbak. Mungkin tadi jatuh."

Blaaaarrrr!!! Kali ini tubuh Sasya terasa semakin lunglai. Mukanya semakin pucat. Semesta kegelapan seolah menerjang dirinya membabi buta. Perasaan malu sudah melewati ambang rasa, suasana kerlap kerlip yang serasa berganti begitu saja membuatnya terhenyak. Matanya membeliak. Saat itu, tiba - tiba Sasya melihat bayangan sang pemuda lagi. Tapi kali ini tidak lagi tersenyum menjengkelkan. Bukan pula sebuah senyum manis yang menggetarkan hati. Kali ini sebuah senyum yang kelihatan lebih lucu dan seakan lebih mengejek kelemahan kontrol emosi dirinya. He2x....he2x....he2x...