Cari Blog Ini

Senin, 28 Desember 2009

My love, my country

February 20th, 2006 

Saat tulisan ini dibuat, ini saya belum pernah mengalami pernikahan apalagi punya anak. Belum pernah merasakan bagaimana dekatnya perasaan dua jenis kelamin yang berbeda setelah ada dalam satu atap, satu nuansa. Atau mengalami kekhawatiran di saat ada karunia cinta yang lain sebagai suatu anugerah dari cinta yang menyatu itu.
Namun dari sekian banyak praktek dan teori tentang cinta dan semua perilaku yang disebabkan oleh karenanya, saya mungkin bisa meraba mengapa selalu ada alasan dalam ikatan antara sesama anak bangsa.Cinta yang saya tahu ternyata tidak saja memberikan kebahagiaan. Ada dua tujuan disaat manusia menentukan pilihan dari kebijaksanaan yang diambil dalam hidupnya. Mungkin bisa saja cinta itu untuk memberikan kesenangan atau mungkin untuk menghindari penderitaan. Yang pasti, dari semua tanda - tanda tentang cinta, ada satu faktor yang selalu ada, yaitu kepedulian.
Kalau kita masih ribut tentang Aceh, Papua, Poso dan wilayah - wilayah di tanah air lainnya itu artinya kita masih punya rasa peduli pada saudara - saudara kita. Kita masih melihat, ada sinaran kasih sayang diantara kekumuhan kilauan air mata kemiskinan yang berusaha meraih senjangnya ketamakan. Hanya saja, kalau ternyata ada yang lebih bisa membuktikan kepedulian itu, tidak hanya karsa, tapi juga karya, mungkin saja cinta itu terpudarkan, tenggelam dengan kemilau lain yang lebih bermakna daripada cinta.
Saya belum pernah punya anak pungut atau anak tiri. Tapi saya sudah sering melihat perbedaan yang mana anak adopsi yang diberikan cinta, mana yang hanya diberikan kasih sayang, atau mana yang hanya dimanjakan kesenangan, atau ada yang malah dinafikan dari rasa cinta yang seharusnya dia miliki. Ada banyak kondisi yang menyebabkan semua itu terjadi. Tapi yang pasti, ada satu ukuran yang sering menjadi perenungan orang tua, yaitu dengan menyadari bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya memberikan kebahagiaan pada anak - anaknya, apakah mereka akan lalu memutuskan untuk melepaskan anak mereka begitu saja? Apakah mereka akan memutuskan untuk menyerahkan pengurusan anaknya pada orang lain yang mencintainya, tapi lebih bisa membuktikan kepeduliannya? Apakah orang yang sang orang tua percayai, benar benar mencintai anak- anaknya? Apakah sang orang tua sudah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa cinta yang lain untuk anak-anaknya itu benar - benar cinta sejati?
Mencintai tanah air tidak bisa saya uraikan dengan kata - kata atau kebijakan politik dan rujukan sejarah semata. Cinta tercipta karena ada satu tujuan. Apakah untuk hanya sekedar pilihan politis atau historis yang sering membuat manusia munafik? Atau mungkin cinta kita pada sang ibu pertiwi buta, tidak punya tujuan? Saya nggak berani menjawabnya. Terlalu naif bagi saya untuk menilai kadar cinta tanah air yang dimiliki oleh saudara - saudara saya sebangsa hanya untuk standard pilihan - pilihan itu saja. Karena buat saya, cinta adalah satu karunia Tuhan, yang baru bisa didefinisikan kadar dan ukurannya oleh sang makhluk yang dikaruniai cinta itu sendiri.
Kalaulah memang, rumah saya di negeri tercinta ditakdirkan untuk menjadi ajang penafian cinta, jika memang realita cinta sudah semakin bergeser pada nilai - nilai yang tidak abadi, saya lebih baik bertanya pada diri saya. Mungkinkah kisah sejarah negeri tercinta menjadi sentimentil seperti kisah cinta romeo dan juliet yang baru bisa terpisahkan oleh maut dan air mata? Atau mungkin zaman sekarang cinta sudah biasa diukur dengan harta? Yang pasti, saya akan didatangi kegelisahan, menunggu giliran cinta yang ada pada saya dicabut oleh Tuhan dari jiwa dan raga saya.