Cari Blog Ini

Sabtu, 03 April 2010

Think and Act Positively 2010

      Well, hari ini perjuangan menyibak kabut pemikiran yang runyam mendekati tahap berikutnya. Saat angan berkelana, di waktu senggang pemikiran asyik mencari jati diri tercetus sebuah ide tentang makna perjalanan hidup yang telah kualami. Dalam usia yang terus bertambah,
dorongan semangat selalu harus kugugah, mesti sering dirubah manifestasinya baik dalam kata, sikap ataupun ingatan yang terekam dalam benak.
      Semesta alam terus beriak menyodorkan fakta dan fenomena yang memiliki aneka frekuensi makna. Bagi sebagian umat manusia, sajian-sajian alam berupa kejadian dan peristiwa mungkin cuma dianggap desiran angin yang mengelus keterlenaan jiwanya dalam kehidupan dunia. Namun, tidak bagi sebagian yang lain. Kupasan-kupasan proses di balik berbagai kejadian dan persitiwa itu akan menjadi penanda waktu yang akan membawa dirinya pada satu pencapaian hidup yang sedang dilakoninya. Kupasan itu akan terasa pedih, asam, manis atau asin tergantung dari melankoli memori dan dramatisasi aksi yang secara spontan sedang dan akan diciptakannya. As time goes on minute by minute, he thinks and acts to produce his next thoughts and actions.
       Putaran bumi terus bertambah, kisaran jarak planet makin memuai sementara manusia yang terlena terus mengurangi daya kembang otaknya. Bagi mereka yang terus berusaha menyadari pemikiran dan aksinya, sezarah pecahan waktu akan selalu dipertimbangkannya agar tidak menimbulkan reaksi yang tidak perlu terjadi baik bagi/dari dirinya maupun bagi/dari alam yang sedang dihadapinya. Meski, toh tak ada manusia yang punya maksud serius terhadap nasib dirinya, kepedulian pada kualitas pikiran dan aksi tersebut akan berdampak sistemik terhadap nasib diri dan kehidupan-kehidupan makhluk yang ada di sekelilingnya.
         Namun tidak banyak yang menangkap maksud dari hal yang mendasar ini. Mungkin hanya satu persen dari segenap pemilik kelimpahan dunia yang sedang berbahagia bisa memahami maksud kata-kata saya di atas. Bahkan, saya yang menulisnya pun masih tidak mengerti mengapa dalam beberapa saat kemudian, pemikiran dan aksi saya mungkin belum selaras dengan frekwensi makna yang dipancarkan dari tulisan saya sekarang.