Cari Blog Ini

Sabtu, 29 Mei 2010

Kita adalah Tentara yang Sedang Bertempur Melawan Musuh

Dunia terwujud. Manusia beserta makhluk-makhluk lain menghuninya. Tuhan yang berkehendak atas semua, menciptakan segala yang ada. Dan dalam segala penciptan-Nya itu terdapat tanda-tanda yang merupakan ketentuan yang tidak bisa dibantah manusia. Bahwa semua makhluk yang berwujud diciptakan berpasang-pasangan. Selalu ada dua kutub yang berlawanan, selalu ada
dua sisi yang berdampingan. Kebaikan berpasangan dengan keburukan, pemerataaan bersanding dengan kesenjangan, sang kaya dibandingkan dengan yang miskin. Sehingga jika ada seorang Professor yang bertanya apakah kejahatan diciptakan oleh Tuhan ? Maka seorang mahasiswa yang berani akan menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

Tuhan menciptakan segalanya tidak berarti Tuhan sama dengan yang diciptakannya. Tuhan tidak mengikuti prinsip manusia yang selalu berasumsi bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan olehnya merupakan penjelasan tentang siapa dirinya. Tuhan menciptakan kebaikan tidak berarti Tuhan sama dengan makhluk kebaikan yang diciptakan-Nya. Tuhan menghendaki kejahatan itu ada, maka Tuhan tidak sama dengan makhluk kejahatan yang dikehendaki-Nya itu. Dan seringkali karena kesombongan sebagian manusia, falsifikasi mereka terhadap ketentuan-ketentuan alamiah yang dikehendaki Tuhan membawa dirinya pada sikap dan perilaku yang menyalahi ketentuan agama karena terlanjur menganggapnya sebagai mitos dan ritual belaka tanpa terlebih dahulu meneliti dan mengkaji nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

Kebanyakan manusia saat ini seringkali terdiam jika menghadapi falsifikasi logika seperti ini. Kenyataan sehari-hari yang bertumpuk banyak menampilkan realitas yang berwujud materi semakin sulit memancarkan nilai spiritualitas yang sebenarnya merupakan sumber dari semua kecerdasan manusia. Hanya sedikit manusia zaman sekarang yang dapat melihat pergerakan atom dalam sebuah benda, dan hanya segelintir orang yang dapat memahami pergerakan semilir angin diantara daun yang bergerak dalam suatu detik waktu. Kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi terlalu pesat sehingga diantara sebagian manusia yang terpelajar pun tidak bisa melihat hakekat dari adanya dua hukum berpasang-pasangan itu.

Masih banyak manusia yang belum memahami bahwa dua fakta yang bertentangan itu sesungguhnya merupakan satu kenyataan, satu tunggalitas.

"apakah kering itu ada?"

Kita hanya bisa merasakannya, karena kenyataannya kering itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap kering itu adalah ketiadaan air. Dalam keadaan suhu 150C air sudah menguap sama sekali. Semua benda menjadi kusam dan tidak terlihat segar. Kita menciptakan kata kering untuk mendeskripsikan suatu kondisi yang tidak lagi basah.

“apakah gelap itu ada?"

Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan tanpa cahaya. Cahaya merupakan suatu fenomena yang bisa kita pelajari, bukan mengamati kegelapan. Hukum Newton berlaku terhadap cahaya bukan tentang gelap. Spektrum warna terjadi karena seberkas cahaya dilewatkan pada prisma Newton sehingga terpecah menjadi beberapa warna dengan berbagai panjang gelombang yang berbeda. Kita justru tidak bisa mengukur kegelapan. Untuk mengukur seberapa gelap suatu ruangan, yang dilihat sebagai patokan adalah berapa banyak intensitas cahaya di ruangan tersebut. Manusia menggunakan kata gelap hanya untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.

"Lalu, apakah kejahatan itu ada?"

Tidak hanya ada, bahkan setiap hari manusia melihat semakin banyak kasus pidana, penyalahgunaan wewenang, korupsi, dsb di antara manusia. Perkara-perkara tersebut sesungguhnya bukan manifestasi dari kejahatan. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti kering atau gelap, kejahatan hanya sebuah ungkapan manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Sesungguhnya Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti kekeringan yang terhampar dari ketiadaan air dan kegelapan yang terpekat dari sirnanya cahaya.

Di dunia yang memasuki era tanpa batas ini, semakin banyak orang-orang yang terlihat jahat. Kompleksitas kehidupan modern telah banyak melahirkan kaum-kaum teroris yang lahir dari awam yang gampang terperdaya lalu menjadi ahli memperdaya. Aksi-aksi pembunuhan sering dilakukan tanpa alasan yang mudah dimengerti akal manusia awam, ibu membantai anaknya sendiri, perilaku anarkis yang muncul begitu saja merupakan sebagian kecil tanda-tanda hancurnya kebaikan yang dimiliki manusia. Kerusakan-kerusakan buatan manusia dan bencana alam sesungguhnya tidak dikehendaki Tuhan. Namun akibat dari kesombongan akal manusia dalam tumbuhnya peradaban yang makin memiskinkan moral serta cinta dan kasih sayang.

Sebenarnya setiap orang yang hidup di zaman ini memiliki pikiran teroris dalam benak mereka. Terorisme bisa dilakukan siapa saja karena hal tersebut menjadi ada dalam pikiran setiap manusia. Tantangan terbesar kita semestinya adalah bagaimana agar kebaikan tidak hilang dari diri kita. Saat ini kita harusnya berperang untuk melawan musuh dalam diri yang terus menerus melakukan upaya dalam rangka membunuh kebaikan yang ada dalam mimpi dan harapan kita.

Sadarlah bahwa banyak diantara kita yang sudah memilki mimpi besar yang baik namun imajinasinya tidak berkembang mewujud kreasi dan inovasi positif karena musuh dalam diri kita - sang teroris - berhasil menggagalkan satu proses menuju kejayaan diri yang kita inginkan. Ingatlah bahwa kita dapat mencapai segala apapun dalam kehidupan jika kita bisa membunuh musuh terbesar dalam diri kita ini. Perhatikanlah bahwa musuh itu akan menunjukkan pada kita tentang ketidakmungkinan mencapai hal-hal yang besar, musuh akan memberitahu bahwa kita tidak memiliki pengalaman, akan berkomentar bahwa kita telah terlambat, akan mengolok kelemahan kita di saat kita terjebak dalam untaian penyesalan yang tidak berujung. Sang musuh akan menasehati kita agar tidak terlalu ambisius karena kita tidak memiliki apapun untuk mewujudkan sebuah kesuksesan besar. Dia akan mengkritik kebodohan kita karena kurang memiliki pendidikan yang cukup. Dan dia akan menjatuhkan harga diri kita dengan mengatakan bahwa suku, agama, ras dan golongan yang kita ikuti peradabannya selama ini sudah tidak layak hidup terhormat di zaman globalisasi yang tiada batas, tiada lagi aturan yang membelenggu kebebasan.

Jadi bagaimana kita bisa melawan musuh yang di dalam diri kita ? Apakah kita perlu memiliki senjata? Tentu saja. Karena ketahuilah bahwa sang musuh memiliki kekuatan yang luar biasa hebatnya. Kemampuan diri kita setara dengan kemampuannya secara sang musuh adalah diri kita apa adanya. Musuh berada dalam pikiran kita. Kita perlu senjata untuk mengendalikan pikiran agar kita selalu berada dalam keadaan yang positif tentang setiap situasi. Membaca buku positif, mendengarkan musik yang positif, berbicara dengan pemikir yang positif, merasa baik tentang diri kita sehingga waktu yang kita lewati tidak menghasilkan kerugian-kerugian.

Senjata yang kita miliki terletak pada Kepercayaan Diri dan Pengendalian Diri. Percaya pada kita sendiri karena kita percaya pada Tuhan. Kendalikan diri kita karena kita dikendalikan oleh Tuhan. Kepercayaan diri berbalut ilmu, pengendalian diri berbalut iman. Berbicaralah pada diri kita bahwa kita bisa. ''Ya Aku Bisa''. Sadarilah bahwa kita adalah tentara, kita adalah pejuang, kita adalah prajurit, pejuang prajurit dan prajurit pejuang yang akan menjauhkan musuh dalam diri kita sehingga “dia” tidak akan menyebabkan efek apapun pada kita karena kita yakin bahwa Tuhan ada bersama kita. Dialah Yang Maha Kuasa Yang berada dekat dengan nadi tenggorokan kita mengiringi perjuangan dan pengabdian kita pada-Nya melewati masa yang ditentukan karena cinta dan kasih sayang-Nya pada kita, umat manusia.

Cimahi, 29 Mei 2010