Cari Blog Ini

Kamis, 11 Oktober 2012

Waktunya untuk Berani dan Bertakwa


Bilamana waktu identik dengan ruang, maka dimensi waktu memiliki wahana perjalanan. Apakah waktu yang berpindah atau seseorang atau sesuatu yang berpindah, belum ada teori yang dapat membuktikannya. Einstein hanya



bisa membuktikan hubungan yang relative antara waktu dengan benda atau makhluk, namun dia tidak bisa menjelaskan tentang perjalanan waktu. Pun, sampai sekarang belum ada ilmuwan yang sanggup menjelaskan teori fisika yang mengijinkan perjalanan waktu dalam segala bentuk, meskipun ada satu teori yang mengijinkan tentang kemungkinan melipat waktu untuk meloncat dari suatu titik ke titik lainnya[1]
Terlepas dari berbagai asumsi dan keyakinan banyak orang mengenai berbagai kemungkinan perjalanan waktu – seperti cerita John Titor, kepastian hidup kita sekarang berada dalam satu dimensi waktu yang berbeda dengan dimensi waktu yang kita alami sebelumnya. Kita bisa melihat perbedaan itu dari berbagai rekaman sejarah yang menjelaskan kisah hidup seseorang, suatu kaum, suatu bangsa dan umat manusia. Rekaman sejarah adalah alat bantu kita melihat masa lalu, agar kita mengetahui bahwa kita sedang hidup di masa kini dan sedang bergerak maju menuju masa depan. Dan saat ini kita meyakini bahwa kita hidup di era globalisasi, dalam suatu masa yang menghadirkan proses penyebaran unsur-unsur baru - terutama  informasi - secara mendunia melalui berbagai media sehingga tidak ada lagi batasan ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi yang diterapkan oleh manusia.
Banyak hal yang bisa kita tangkap dengan panca indera kita di era globalisasi ini. Begitu banyak dan rumit sehingga untuk memaknai segala sesuatu yang ditangkap oleh panca indera kita sampai dengan saat ini tidak lagi sesederhana membalikkan tangan. Kita membutuhkan berbagai pandangan dan hubungan dari berbagai ahli karena dasar-dasar ilmu yang kita pahami selama mengikuti pendidikan maupun dari keluarga dan masyarakat tidak lagi cukup memadai dengan kenyataan yang kita alami di zaman modern ini. Ketidakpastian senantiasa hadir di alam global yang terus menghasilkan berbagai inovasi teknologi. Hal ini dikarenakan suatu hal yang tidak mungkin di masa lalu, bisa saja terjadi di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Dunia sekarang begitu semakin hebat karena semakin banyak terungkap keajaiban dan rahasia-rahasia yang tersembunyi selama puluhan abad. Temuan-temuan dan fenomena baru di alam global ini seharusnya menyadarkan kita tentang makna lain dalam perjalanan waktu. Yaitu, ketika suatu kemungkinan hadir dalam dimensi waktu, maka di saat itu pula ketidakpastian bergerak menghantui keyakinan yang sudah lama terbentuk dalam akal manusia.
Dari hal tersebut, seharusnya kita dapat mengedepankan suatu refleksi. Bukan untuk mecari pamrih atas karya dan pengabdian kita, melainkan untuk mengukur bagaimana kita mengembangkan kontribusi kita yang terbaik bagi sesama manusia dan alam di sekitar kita. Berbagai fenomena hidup yang kita alami hingga kita tiba di satu titik saat ini seharusnya bisa mengantar kita pada satu kesadaran tentang makna dari jati diri kita. Sudah menjadi bagaimana kita sekarang ? Hendak kemanakah kita nanti setelah ini ? Saya sendiri sampai sekarang tidak bisa menjelaskan secara bijaksana bagaimana itu “menjadi manusia”. Karena menjadi manusia sebagaimana yang didambakan, ditengah riuhnya pergulatan kepentingan individu, kelompok, suku sampai dengan bangsa bukanlah masalah yang ringan. Untuk mengurai masalahnya tidak cukup dengan satu halaman blog dan diskusi satu malam. Oleh karena itu, kita cukup melihat apa yang sedang terjadi di Negara kita ini sekarang.
Di Indonesia, kegaduhan politik setelah era reformasi telah mengantarkan satu pepatah yang menebalkan keyakinan bahwa dunia ini milik orang berani, sedangkan akhirat milik orang bertakwa. Perubahan besar yang terjadi di era reformasi menuju alam demokrasi memberi peluang banyak individu untuk menguji pilihan hidupnya. Keran demokrasi yang membuka lebar pintu kebebasan seakan mewajibkan setiap individu untuk mengenyahkan ketakutan-ketakutan yang diyakini kebenarannya selama masa orde baru. Akademisi tidak boleh lagi takut mengemukakan teorinya, pengusaha tidak boleh lagi takut mengembangkan bisnisnya, pejabat tidak boleh lagi takut berseberangan dengan atasannya, bahkan pengemis pun tidak boleh takut mengkoordinir pekerjaan pengemis-pengemis di jalanan. Kebebasan demokratis telah mewarnai wajah dunia di nusantara sekarang pada satu citra tentang bagaimana ketatnya persaingan hidup mengharuskan seseorang memiliki keberanian yang lebih besar untuk menghasilkan suatu perubahan.
Ya, perubahan. Itulah yang diinginkan banyak orang dari era reformasi ini. Namun sayangnya perubahan itu tidak menuju kondisi ideal yang diharapkan banyak orang. Karena perubahan yang diinginkan tersebut tidak selalu dilandasi dengan keberanian yang bersumber dari nilai-nilai moralitas. Hakekat moral sebagai integrasi dari nilai-nilai kemanusiaan kurang menjiwai banyak perubahan di era reformasi ini. Sehingga keberanian yang mendorong perubahan tersebut lebih bermakna untuk kepentingan sesaat, sempit atau hanya dijiwai oleh keberanian untuk mengikuti nafsu kemanusiaan semata. Padahal, perubahan identik dengan perjuangan, yang artinya membutuhkan banyak pengorbanan. Disinilah letak keberanian menjadi penentu keberhasilan seseorang di zaman sekarang, yaitu bagaimana dia mengorbankan  suatu hal yang sudah dipegangnya selama bertahun-tahun kemudian berganti dengan hal yang lain karena adanya tuntutan perubahan dari lingkungannya. Hal ini di sisi lain menjadi paradox. Keuntungan yang diyakini dapat diraih dari keberanian melakukan perubahan dapat mendorong setiap orang untuk tampil beda. Siapa yang lebih kreatif dan dapat memuaskan banyak orang dan diikuti dengan keberanian maka langkah selanjutnya dapat dengan mudah meraih bunga dunia yang diinginkannya.
Anda mungkin tidak setuju dengan pendapat saya karena setiap situasi berbeda kondisinya. Argumen saya dilatarbelakangi dasar pemikiran tentang kehidupan manusia di era reformasi ini yang sudah tidak lagi memegang prinsip-prinsip hidup yang diyakini oleh orang-orang yang hidup di masa lalu. Nilai-nilai prinsiipil  itu kini menghadapi persaingan dengan nilai-nilai baru yang lebih universal dan mampu menggoyahkan keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai standard yang sudah ditetapkan oleh Negara dan masyarakat yang sedang berlaku. Dan barangsiapa berani menerapkan nilai-nilai yang lebih baru tersebut di dalam masyarakat saat ini, maka dia lebih banyak memiliki kesempatan untuk mendapat penghargaan banyak orang. Dampak positif atau negative dari perubahan yang dihasilkan dari keberanian seseorang menerapkan nilai-nilai yang lebih baru tersebut tentunya tergantung dari bahan mendasar yang menjadi acuan nilai-nilai perubahan tersebut. Yang lebih esensial tentunya adalah keberanian orang tersebut membawa perubahan tersebut. Keberanian untuk berubah, itulah yang dibutuhkan. Hitam atau putih perubahan itu, maka ditinjau dari aspek keberanian semata, dialah yang terbaik.
Dengan demikian, kebaikan dari keberanian yang diperoleh seseorang tergantung dari tepat atau tidaknya waktu dan cara keberanian tersebut diterapkan. Pada prinsipnya keberanian bisa diperoleh dan diterapkan dimanapun lingkungan berada. Keberanian yang dilakukan ditempat sebelumnya dapat menjadi dasar atau pemicu untuk melakukan keberanian di tempat lain meskipun dengan jenis dan cara yang berbeda. Oleh karena itu, keberanian dalam era reformasi ini ibaratkan keberanian Daud mengalahkan Goliat. Cerita Daud mengalahkan Goliat saat ini banyak dijadikan referensi banyak kepentingan. Ditinjau dari sisi negatif, keberanian teroris melawan hegemoni barat bisa menjadi contoh keberanian sekelompok orang dalam mewujudkan nilai-nilai baru yang lebih diyakininya. Namun seharusnya gambaran Daud mengalahkan Goliat ini dilihat dari aspek yang lebih bermakna yaitu tentang bagaimana upaya bangsa ini melakukan reformasi birokrasi di negeri ini. Tantangan yang besar dan tidak sebanding terlihat dari sistem birokrasi negeri ini yang akut dan menjadi tumpangan kepentingan banyak orang harus dibidik oleh kalangan reformis yang menginginkan perbaikan dan perubahan ke arah Indonesia yang lebih baik.
Kita bisa melihat sisi paradox yang  lain dari keberanian ini dari kasus cicak buaya, atau yang sedang terjadi terhadap penyidik KPK saat ini. Keberanian seorang Letjen Susno Duaji atau Kompol Novel dalam menerapkan kesungguhannya sebagai penyidik harus menghadapi kekuatan besar birokrasi di tubuh organisasi yang sedang menjadi obyek idealismenya. Namun di sisi lain, para aparat Polri juga harus berani menegakkan aturan yang berlaku terhadap anggotanya yang melanggar aturan organisasi namun mendapat dukungan kekuatan yang besar dari publik. Dua kepentingan yang melahirkan keberanian-keberanian humanis dari seorang aparat dalam mewujudkan perubahan-perubahan yang diyakininya. Dua kepentingan tersebut tentunya memiliki dasar nilai yang benar, bahkan mungkin dilandasi kepentingan untuk mewujudkan reformasi birokrasi yang masuk akal.
Untuk mengungkap keberanian siapa yang lebih tepat untuk dihargai, hanya nurani kita yang bisa menjawabnya. Apabila hati kita masih memiliki komitmen yang kuat untuk mendengarkan bisikan nurani, maka kita bisa menilai keberanian manakah yang seharusnya mendapat penghargaan di dunia ini. Karena pada dasarnya keberanian bermodalkan pada pribadi atau jiwa, jasmani, pengetahuan, pengaruh  lingkungan serta situasi dan kondisi yang berlaku. Dan itu semua sangat tergantung dari tingkat ketakwaan yang dimiliki seseorang. Ketakwaan seseorang dapat mendorong seseorang menjadi berani. Karena dengan dilandasi ketakwaannya, dia meyakini bahwa tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang dapat menandingi kekuatan terbesar di alam semesta ini.
Namun demikian untuk mencapai ketakwaan yang dapat melahirkan keberanian yang hakiki diperlukan kepercayaan dan keyakinan. Sehingga dengan kepercayaan dan keyakinan tersebut, lahirlah ucapan dan tindakan serta perilaku yang dapat mengatasi ketakutan-ketakutan yang dihadapinya. Disinilah makna dari akherat milik orang yang bertakwa. Keyakinan tentang adanya surga dan neraka, adanya balasan atas perbuatan baik dan buruk menurut ajaran agama, rahasia dan keajaiaban akhirat, serta banyak hal yang belum dapat kita lihat dan kita rasakan secara langsung di dunia ini membutuhkan energi yang lebih. Artinya, seseorang harus memiliki kekuatan mentuk memilki visi tentang “gelap dan terang”. Proses pemahaman terhadap hal-hal tersebut tidak hanya melibatkan kemampuan akal, melainkan juga kemampuan batin sehingga tergambar hal-hal yang berkaitan dengan kini dan besok, baik dan buruk, ya dan tidak, jangan dan boleh dan sebagainya. Pada proses inilah terjadi pertarungan sengit yang membawa pada keberanian yang berdampak positif atau negatif.

Bukan Negara Mafia
     
   Tepatkah penilaian seorang Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dr Laode Ida, tentang sebutan mafia pada negeri ini ? Menurutnya, maraknya markus di Indonesia menunjukkan bila negara ini sudah mirip dengan negara mafia karena semua lini atau pos-pos di negeri ini tidak lepas dari praktek-praktek kotor mafia. Namun penyebutan Indonesia sebagai negara mafia berarti menganggap Negara ini diatur oleh sebuah dinasti keluarga yang melegalkan praktik kotor, brutalisme dan kejahatan terselubung. Kasus Letjen Susno Duadji dan Kompol Novel seakan membenarkan asumsi tersebut dan mengindikasikan sedang terjadinya konflik dalam kehidupan keluarga mafia. Susno dan Novel yang berani mengungkap kasus-kasus besar dianggap sebagai  pengkhianat yang dapat menggoyahkan dinasti keluarga mafia dan karena itu dia harus disingkirkan dan tentu saja dengan cara-cara yang dapat saja secara formal disebut sebagai sesuai dengan ketentuan atau atau aturan hukum yang berlaku. Namun benarkah sedemikian buruk praktek kenegaraan yang berlaku saat ini ?
   Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya diperlukan keberanian untuk mengungkap fakta yang ada. Penilaian Dr. Laode Ida bisa menjadi keyakinan banyak orang apabila setiap saat bangsa ini disuguhi praktek-praktek penegakkan hukum yang tidak profesional dan bertanggungjawab. Pendapat Dr. Laode Ida akan semakin diamini kalangan masyarakat dan bahkan mungkin akan mendorong munculnya mafia-mafia yang sebenarnya dan ingin merebut kekuasaan mafia yang sedang berkuasa saat ini. Namun kehidupan di negeri ini tidaklah serumit pandangan Dr. Laode Ida tentang praktek mafioso. Praktek kenegaraan yang ada saat ini bukanlah praktek mafioso gaya baru. Negara dan bangsa ini memiliki landasan karakter yang kuat, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Apabila Negara dan bangsa ini dianggap sebagai Negara mafia, maka sama saja tidak ada lagi karakter yang dimiliki bangsa ini. Mungkin lebih tepat dikatakan jika jati diri bangsa ini mulai melemah, yang berarti pula nilai-nilai pegangan hidup kita sebagai warga bangsa dan Negara mulai pupus.
Dengan demikian, keberanian yang harus kita kedepankan di era reformasi ini adalah mewujudkan good and clean governance, membangun pemerintahan yang bersih dan berwibawa dengan dilandasi kesadaran kita akan semangat kebangsaan dan nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai luhur bangsa tidak identik dengan dengan dunia mafia. Bangsa ini memiliki karakter, yaitu Pancasila. Oleh karena itu sangat ironis bila keberanian di era reformasi ini menghadapi paradox. Di satu sisi, agenda mulia reformasi mengandung makna perubahan menuju kondisi yang lebih maju yaitu kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang adil makmur, dan sejahtera. Namun di satu sisi lainnya, pengelolaan birokrasi dipengaruhi oleh gaya mafia dan tanpa memiliki karakter terpuji, terutama di kalangan elit penguasa.


Oleh karena itu, roh reformasi yang nyaris lenyap harus ditarik kembali dengan strategi membangkitkan keberanian memberantas berbagai gurita praktik mafia. Tujuannya (end) ? Pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Caranya (ways) ? Awali dengan membangun karakter diri kita sendiri. Wujudkan kepemimpinan yang diliputi semangat kebangsaan untuk memberantas segala bentuk praktik mafia dalam segala aspek kehidupan. Sarananya (means) ? Penerapan ajaran agama secara konsisten. Setuju ?



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Perjalanan_waktu