Cari Blog Ini

Minggu, 17 Februari 2013

Mengenal Sajian Teh


Kita biasanya meminum teh dengan menyeduh daun Camellia sintesis dalam air. Camellia sinensis, spesies tanaman yang daun dan pucuk daunnya digunakan untuk membuat teh, termasuk genus Camellia (Hanzi tradisional: 茶花; bahasa Tionghoa: 茶花; Pinyin: Cháhuā), suatu genus tumbuhan berbunga dari famili Theaceae. Semua jenis teh,




baik teh putih, teh hijau, oolong dan teh hitam, didapat dari spesies ini, namun diproses secara berbeda untuk memperoleh tingkat oksidasi yang berbeda. Kukicha (teh ranting) juga dipanen dari Camellia sinensis, namun tidak memakai daun melainkan ranting. Teh merupakan minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Istilah "teh" juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal. Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri saat meminumnya.

Warga China telah mengenal dan mengkonsumsi minuman teh selama 3.000 tahun karena tanaman ini berasal dari daratan Asia. Meski saat ini teh telah dikonsumsi oleh banyak orang di seluruh dunia, namun ada beberapa hal yang mungkin perlu Anda ketahui tentang teh. Seperti dilansir oleh Shine! (13/02), terdapat beberapa hal-hal yang mungkin tidak Anda ketahui selama ini mengenai teh.
1. Semua teh berasal dari satu tanaman. Teh putih, hijau, atau hitam sebenarnya berasal dari satu tanaman, yaitu Camellia sinesis. Yang berbeda adalah masa pengambilan daun teh, disesuaikan dengan jenis teh yang diinginkan. Teh putih, hijau, atau hitam bergantung pada seberapa lama daun teh diproses dan dioksidasi. Sementara itu, teh herbal yang terbuat dari chamomile atau mint merupakan kategori yang berbeda. Begitu juga dengan teh merah yang tak terbuat dari teh, melainkan tanaman lain dari Afrika Selatan.

2. Minuman terpopuler kedua di dunia. Teh adalah jenis minuman terpopuler kedua yang dikonsumsi oleh penduduk dunia. Minuman populer pertama adalah air. Dan, teh bahkan mengalahkan kopi untuk urusan popularitas.

3. Beda teh, beda waktu penyeduhan. Setiap jenis teh membutuhkan waktu perendaman dan temperatur yang berbeda agar terasa sempurna. Misalkan teh putih harus direndam selama dua sampai tiga menit dalam air bersuhu 180 derajat. Sementara teh hijau harus direndam selama tiga menit pada suhu yang lebih panas. Sementara itu teh herbal, teh hitam, dan teh merah akan terasa sangat nikmat ketika direndam selama lima sampai tujuh menit dalam air yang hampir mendidih.

4. Teh memiliki manfaat kesehatan luar biasa. Mengonsumsi dua cangkir teh setiap hari menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Ditambah lagi, penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi dua cangkir teh setiap hari bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, melawan kanker, dan melindungi enamel gigi, serta melawan penurunan kekuatan ingatan ketika Anda semakin menua. Teh hijau memiliki kandungan antioksidan yang meningkatkan tekstur kulit dan mencegah kerutan.

Di sisi lain, anda juga harus hati-hati saat mengkonsumsi teh. Selain mengandung kafein, dan teh sekarang banyak dikemas dalam bentuk teh celup. Teh celup sebaiknya tidak dicelupkan terlalu lama karena adanya kandungan zat klorin dalam kantong kertas teh celup. Ini berlaku untuk semua teh, berwarna maupun teh hijau. Zat ini fungsinya untuk disinfektan kertas sehingga kertas akan terbebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Kertas dengan klorin tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang dan kanker. Sehingga dianjurkan jangan mencelupkan teh celup dalam waktu lama.

Jika mencelup kantong teh lebih dari 3 - 5 menit, klorin akan ikut larut dalam teh. Dan banyak khasiat teh yang tertinggal dalam minuman teh. Agar terhindar dari kemungkinan - kemungkinan penyakit, sebaiknya jangan mencelup kantong teh lebih dari 3 menit. Kasus teh celup yang merenggut korban masih simpang siur kejelasan penyebabnya. Salah seorang karyawati pabrik sosis yang turut menjadi korban teh maut itu membantah  teh tersebut beracun. Ia mengaku dirinya minum teh kadaluwarsa. Kasus teh celup yang memakan korban menjadi perhatian masyarakat. Sebab, teh merupakan minuman yang dikonsumsi tiap hari. Teh juga disuguhkan sebagai minuman saat tamu bertandang. Terlepas dari kasus teh celup maut tersebut, bagaimana sebaiknya  mengonsumsi teh agar bermanfaat?

Dari hasil penelitian salah seorang lulusan Teknologi Pertanian Unud Anju Aprianto Aritonang, teh mengandung antioksidan, khususnya teh hijau. Mahasiswa angkatan tahun 2006 ini khusus meneliti teh hijau celup. Kandungan antioksidannya lebih tinggi dibanding teh hitam. Teh hijau mengandung antioksidan 2-4 %. Adapun antioksidan yang dimaksud adalah catechin, yang mengais radikal bebas yang dapat merusak DNA dan berkontribusi antara lain terhadap kanker dan atherosclerosis—plak yang terbentuk dalam arteri. Dr. David B. Samadi, Wakil Ketua Departemen Urologi dan Kepala Robotika dan Bedah Invasif Minimal di Mount Sinai School of Medicine di New York City, Amerika Serikat, menulis di FoxNews.com, Rabu (7/11),  bahwa catechin mengandung epigallocatechin-3-gallate (EGCG) yang unik dan melimpah dalam teh hijau sebagai hasil dari pengolahan minimal untuk menghasilkan teh tersebut.

Studi laboratorium menunjukkan EGCG dan beberapa catechin lain dapat lebih kuat daripada vitamin C dan E dalam menghentikan kerusakan oksidatif pada sel-sel dan berpotensi memiliki kemampuan untuk melawan penyakit lain. Selain itu, diperkirakan EGCG memainkan peran penting dalam menghambat sintesis DNA dan replikasi sel, yang sama-sama untuk kelangsungan hidup sel-sel kanker. Untuk alasan tersebut, penelitian telah menunjukkan hubungan antara konsumsi teh hijau dan penurunan risiko untuk hiperlipidemia—penyakit akibat kadar lemak tingkat tinggi dalam darah--, hipertensi, atherosclerosis, Parkinson, dan beberapa kanker, termasuk kulit, payudara, paru-paru, kolorektal, lambung, kerongkongan, dan prostat.

Sebagian besar dari penelitian tersebut, menurut Dr Samadi, telah dilakukan pada tikus besar atau tikus kecil, sehingga sulit untuk menerapkan kesimpulan pada manusia. Hanya beberapa studi observasional telah dilakukan pada manusia, yang sering mencuatkan bukti yang bertentangan. Sebagian besar inkonsistensi tadi mungkin lantaran variasi dalam persiapan teh, konsumsi, faktor gaya hidup lain, dan genetika. Selain itu, sebagian besar penelitian ini dilakukan pada populasi Asia yang menjadikan teh sebagai minuman pokok. Pengganggu hubungan ini lebih merupakan kebiasaan diet lain, seperti konsumsi daging protein tinggi sehingga sulit untuk menjelaskan manfaat langsung dari konsumsi teh hijau. Dr Samadi juga mengingatkan bahwa teh hijau bukanlah obat mujarab. “Tidak ada pengganti untuk diet sehat, aktivitas fisik, dan pemeriksaan kondisi kesehatan yang memadai,” kata dia. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, dia menambahkan, pastikan Anda hanya mencelupkan kantong teh atau menyeduh daun teh selama tiga sampai lima menit. Minumlah cukup sekitar tiga cangkir setiap hari.

Yang tak kalah penting, menurut Dr. Samadi, catechins dalam teh hijau seduh lebih melimpah dibandingkan dari teh instan, teh botol, atau teh tanpa kafein. Juga, teh hijau terbukti mengganggu penyerapan zat besi, terutama dari sumber buah dan sayuran. Tapi, menambahkan lemon atau susu pada teh di antara makanan akan membantu mengatasi masalah ini.

“Walaupun antioksidan hanya dibutuhkan sedikit dalam tubuh, namun fungsinya sangat penting. Antioksidan  menangkal radikal bebas dalam tubuh dan ampuh mencegah tumbuhnya sel kanker. Radikal bebas dalam tubuh disebabkan  polusi lingkungan dan makanan yang dikonsumsi tercemar,” kata pengajar Teknologi Pertanian Unud Ir. Luh Putu Wrasiati, M.P. Menurutnya, selain teh yang berasal dari daun teh camellia sinensis, sekarang banyak juga beredar teh herbal untuk kesehatan dari akar, bunga, atau batang seperti teh benalu, rosella, dan krisan. “Aktivitas antioksidan teh herbal ini juga tinggi. Teh herbal banyak digunakan di rumah kecantikan. Antioksidan tidak saja bekerja saat diminum tetapi bekerja juga lewat kulit,” papar perempuan yang kini sedang menempuh studi program S3 Ilmu Kedokteran konsentrasi Biomedis ini.

Hal senada juga diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam Prof. Nyoman Dwi Sutanegara. Menurutnya, antioksidan merupakan bahan yang dapat menetralisir kelebihan elektron-elektron radikal bebas. Radikal bebas ini muncul pada orang tua atau pasien diabetes dan hipertensi. “Belakangan ini diketahui, radikal bebas ikut berperan dalam munculnya proses degenerasi khususnya terjadi di pembuluh darah sehingga muncul serangan jantung dan stroke,” kata Prof. Dwi. Antisipasinya, dengan  memberikan obat-obatan yang melawan radikal bebas yakni antioksidan. Teh salah satunya yang mengandung antioksidan flavonoid, khususnya teh hijau. Jika dikonsumsi jangka panjang memberi pengaruh positif menangkal radikal bebas.

Menurut Guru Besar FK Unud ini, teh berasal dari tanaman, sehingga penyimpanannya harus bersih dan kering agar tidak ditumbuhi jamur. “Kalau sudah kadaluwarsa dan terkontaminasi jamur sebaiknya jangan dikonsumsi. Untuk mengetahui ada tidaknya jamur, perlu dicek ke laboratorium,” ujarnya.

Teh berjamur dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti keracunan. Muncul diare dan muntah dalam kurun waktu 1- 2 jam setelah mengonsumsinya. Perut mulas,  muntah-muntah, badan meriang, dan diare akibat tubuh bereaksi menolak masuknya zat asing. Jika gejalanya sangat hebat, cairan tubuh banyak yang hilang. Komposisi tubuh anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Sebanyak 50% lebih tubuh anak mengandung cairan. “Jika cairan hilang,  dapat mengakibatkan dehidrasi. Terlambat penanganan, organ tubuh bermasalah, gagal ginjal, jantung tidak berfungsi, bahkan mengakibatkan kematian,” paparnya. Kalau diduga masih tersisa racun di saluran cerna, racun harus segera  dikeluarkan dengan cuci lambung atau kumbah lambung. Akibat kehilangan cairan ini, tubuh  harus diinfus. Kekurangan cairan berperan besar  terjadinya kematian. Sebagian besar kematian karena keracunan akibat dehidrasi.

Ia mengatakan ada racun tertentu memengaruhi sel darah merah. Wajah menjadi biru terutama di bibir, lidah, dan di telapak tangan, serta di bawah kuku. Jika keracunan makanan, dapat dipastikan dari muntah dan diare. Tubuh memiliki pertahanan sendiri  dari serangan berbagai zat negatif.  Lever adalah organ tubuh yang mampu memetabolisir bahan-bahan racun.“Tiap kita makan, sari makanan diserap usus dan dialirkan ke lever.  Terjadi proses-proses metabolisme di lever yang mengubah makanan beracun menjadi  tidak beracun. Lever berperan sebagai benteng dalam tubuh,” ujarnya.  Namun, kata Prof. Dwi, kalau serangan datang terus menerus lever kewalahan.  Kadang masih  tersisa secara halus produk metabolisme yang belum sempat dinetralisir, tetapi sudah beredar ke seluruh tubuh.  Ini sangat mematikan. Selain lever, tubuh juga memiliki seluler sebagai pertahanan yang dapat memakan bakteri.


Hati-hati mengkonsumsi teh celup

Ir. Luh Putu Wrasiati menyatakan masyarakat cenderung menginginkan yang hemat dan  praktis. Teh  celup alternatifnya. “Daun teh dibungkus dalam kantung  kertas yang berisi tali agar memudahkan untuk mencelupnya,” katanya.  Umumnya, kertas dibuat dari bubur kertas yang terbuat dari kayu. Untuk membuat kertas  ini menjadi putih digunakan senyawa klorin. Kertas yang berserat ini digunakan sebagai kantung teh celup. Sampai saat ini belum ada penelitian  dampak kandungan klorin dalam kantung teh celup.

Namun, Wrasiati menyarankan,  konsumen  sebaiknya mencelupkan teh kurang dari 3 menit. Setelah itu, bandul teh dibuang. “Biasanya kita mencelup teh hanya satu menit. Lebih dari itu warnanya sudah pekat. Bagi yang biasa menaruh teh celup dalam cangkir sampai dingin, hendaknya mulai mengubah kebiasaan ini,”  kata istri Anom Wijaya ini. Tujuannya, agar senyawa klorin atau senyawa lain pembuat kertas tidak ikut larut ke dalamnya.  Kalau direndam terlalu lama, kantung teh dapat rusak dan beberapa zat kimia dapat  ikut terlarut  di dalamnya.  Menurutnya, sebaiknya minum teh selagi hangat akan terasa lebih nikmat dan  dapat menyegarkan tubuh serta pikiran.  Ia berharap Balai POM  aktif dan bergerak cepat jika ada indikasi. “Jangan bergerak setelah ada masalah,” sarannya.  Pemerintah memunyai beberapa standar yang harus dikuti produsen agar menggunakan kertas yang layak untuk makanan. “Ada strandar khusus dari Departemen Kesehatan RI,” tambahnya.

Menurut Kepala Bidang Pengujian Teranokoko (terapik, narkotika, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen) Balai POM Denpasar Drs. I Wayan Eka Ratnata, Apt., pihaknya belum pernah melakukan pengujian langsung terhadap pembungkus teh celup. “Kami hanya menguji isinya,” ujarnya. Menurutnya,  ika memang pembungkus teh celup terkontaminasi jamur, pasti terdeteksi dalam isinya.  “Sebelum dikonsumsi, teh melalui proses  penyeduhan sehingga kalau ada mikroba akan mati,” jelas Eka.

Ia mengatakan, Balai POM selalu melakukan pengujian secara rutin ke lapangan.  Selama ini, kata Eka, belum pernah ditemui teh beracun atau berjamur yang dipasarkan. “Tiap produk selalu memiliki masa kaladuwarsanya. Puluhan produk teh beredar di pasaran termasuk teh herbal untuk kesehatan. Rata-rata produsen teh sudah diakui proses produksinya bagus dan layak dikonsumsi,” jelasnya.  Dalam sebulan Balai POM melakukan pengecekan ke lapangan sekitar 30 kali surat tugas. “Tidak mengkhusus hanya makanan dan minuman, juga obat, obat tradisional termasuk  suplemen makanan,  kosmetik, dan narkotika psikotropika yang digunakan  pengobatan,” paparnya. Menurut Eka, dalam setahun ada dana pengujian 4000 sampel.  Pengujian makanan dan minuman tahun 2009 sekitar 1600 sampel dari dana Balai POM. Sementara dari pihak luar sekitar 500 sampel.

Demikianlah beberapa fakta mengenai teh yang mungkin belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Semoga dengan pengetahuan baru ini, anda lebih dapat menikmati sajian teh yang sedang anda seruput tanpa perlu dengan dahi berkerut.


Sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Teh
http://www.smallcrab.com/kesehatan/766-celup-teh-terlalu-lama-tak-jauh-beda-dari-racun-serangga
http://shnews.co/detile-10539-manfaat-minum-teh-hijau.html