Cari Blog Ini

Sabtu, 01 Oktober 2016

Sedalam apa komitmen Kita pada kesejahteraan umat Manusia ?

Tahukah anda pada bulan September 2015, para Pemimpin Dunia telah berkomitmen untuk mencapai Sasaran Global dalam rangka Pembangunan Berkelanjutan. 17 sasaran untuk mencapai 3 hal yang luar biasa dalam 15 tahun ke depan : mengakhiri kemiskinan yang ekstrim, melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan serta memperbaiki perubahan iklim. Untuk mewujudkan Sasaran ini, diperlukan partisipasi semua warga dunia dan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya pencapaian tujuan - tujuan tersebut dan mendorong mereka untuk menjadi generasi yang mengubah dunia. Kemudian pada tanggal 20 September 2016 yang lalu, komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam debat tahunan Majelis Umum PBB.

Gambar dan video yang saya kirim ini merupakan salah satu media untuk mengingatkan komitmen tersebut. Diantara ketujuhbelas sasaran yang ada, kemiskinan dan kelaparan merupakan salah satu keadaan yang masih sering kita temui. Saya tidak tahu apakah media ini sebatas pencitraan atau bukan, namun saya yakin peristiwa itu benar - benar merefleksikan realita yang sering kita abaikan. Video dan gambar ini benar - benar mengingatkan Kita untuk selalu bersyukur dan berterimakasih dengan keadaan yang kita terima. Tidak cukup itu, Kita juga harus selalu berfikir untuk mewujudkan rasa syukur tersebut dalam satu tindakan. Meskipun sederhana, saya yakin Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan kesempatan pada kita untuk memberi daripada sekedar melihat dan merasa kasihan. Semoga hari ini saya bisa mengajak diri saya maupun anda untuk berbuat lebih kreatif, inovatif dan solutif. Sekecil apapun itu, selama dilakukan dengan ikhlas saya yakin akan menjadi sesuatu yang besar. Jika mereka yang sangat kekurangan saja mampu memberi, mengapa kita yang berlebih tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih baik bagi orang - orang yang sedang ditimpa kemiskinan dan kelaparan ?


Kemiskinan hati maupun harta seringkali timbul dari pemahaman yang kurang menyeluruh tentang makna keadilan. Siapapun kita telah melalui berbagai pengalaman kerja atau hidup bersama dengan anak-anak akan tahu kemampuan mereka untuk mendeteksi ketidakadilan. Anak - anak atau kita sendiri di masa kecil sering mengatakan - "...tapi itu tidak adil.." kemudian membiasakan untuk menahan diri dengan tidak mengatakannya secara berlebihan. Hal ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk bakat yang jarang disalurkan yaitu mencari bentuk keadilan dalam diskusi yang produktif dan kritis tentang sifat kesetaraan, apa saja yang termasuk perlakuan yang adil, dan siapa yang akan menentukan standar keadilan tersebut. Saya kira pembelajaran tentang masalah ini akan terus berlanjut sampai akhir masa kita hidup di dunia ini. Namun yang lebih penting adalah bertindak dan beraksi nyata untuk berlaku adil meskipun hanya Tuhan lah Yang Maha Adil terhadap diri kita, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Mulai dengan hal yang sederhana, dengan memberi sesuatu yang kita miliki dan memaafkan kekurangan yang kita miliki. Misalnya memberi senyum dan memaafkan dengan tersenyum.