Cari Blog Ini

Sabtu, 31 Desember 2016

Harga Sebuah Penyesalan

Pada satu titik waktu dalam kehidupan ini, banyak diantara kita yang akan membuat perubahan besar. Suatu kondisi yang tidak hanya akan menghabiskan banyak uang dan semua sumberdaya yang ada, namun juga akan merugikan mental dan akan menghabiskan banyak energi. Namun demikian setiap perubahan dalam hidup, akan selalu mengajarkan pilihan apakah kita akan membayar untuk harga disiplin atau untuk harga penyesalan.
Kita selalu membayar harga untuk kedua hal ini di semua bidang kehidupan : karir, hubungan, kesehatan, perkembangan spiritual dan urusan keuangan. Namun sayangnya banyak dari kita gagal memahami hukum kehidupan sederhana tersebut.

Seumpama Kita tidak bahagia dimana Kita berada, banyak yang Kita lakukan untuk  mengubah situasi yang ada. Karena kita manusia, bukan pohon, bukan benda mati - Kita bisa bergerak. Bahkan jika itu berarti pindah dari satu kota ke kota lainnya, itu adalah hidup Kita dan Kita harus bahagia pada akhirnya. Banyak hal yang mungkin akan Kita temui sedikit sulit di awal kita berpindah dan juga tidak ada yang mengatakan akan mudah.

Bagi Kita yang berakal, awal perubahan akan kita sikapi dengan mematuhi hukum yang berlaku untuk semua masalah kehidupan, seperti disiplin, komitmen, kesabaran, integritas, latihan, pengendalian diri, dan fokus. Keseluruhan nilai - nilai tersebut akan membantu kita hidup dengan kebebasan, kedamaian, dan harmoni untuk bersanding dengan keadaan buruk yang membawa rasa sakit hati, kegagalan dan kemalangan saat kita bergerak sepanjang jalan hidup yang kita tempuh. Sebagian besar hal - hal buruk tersebut bisa dihindari (meskipun, tidak semuanya) jika kita mengerti, menerima, dan mengintegrasikan nilai kebenaran sederhana ini ke dalam kehidupan kita.

Namun dalam banyak hal, Kita harus mendengarkan naluri lebih banyak lagi ? Karena
ada satu hal yang bahkan lebih buruk daripada semua itu: PENYESALAN.

Pendorong utama yang bisa menciptakan penyesalan adalah mimpi dan harapan. Jika Kita memiliki mimpi, naluri kita akan mendorong diri untuk mengejarnya. Karena tidak peduli seberapa banyak Kita mencoba dan gagal akan jauh lebih menyakitkan daripada mengetahui bahwa Kita bahkan tidak mencobanya sekalipun hanya karena seseorang tidak menyukai mimpi Kita. Jika Kita memiliki impian untuk hidup, maka pergilah tanpa perlu memikirkan apa yang orang lain katakan, karena Kita tidak ingin menyesali hal-hal yang bisa Kita lakukan dan peluang yang bisa Kita ambil saat Kita tua !

Harga penyesalan yang disebabkan oleh tidak adanya upaya Kita mewujudkan mimpi akan sebanding dengan harga kedisiplinan untuk menjalani proses pencapaian wujud mimpi Kita. Harga kedisiplinan adalah dosis harian latihan, moderasi dalam urusan hidup, kebiasaan makan, strategi hubungan antar perorangan, seperti komunikasi terbuka dan kejujuran dan, tentu saja, mengelola sumber daya kita dengan bijak. Tidak adanya disiplin kecil sehari-hari ini akan terakumulasi, hari demi hari, dan dari tahun ke tahun sampai Kita mewarisi konsekuensi jangka panjang dari kesalahan sedikit saja yang kita lakukan dalam proses ini.

Kita semua memiliki banyak pengalaman pribadi dimana kurangnya disiplin sehari-hari datang pada suatu hari untuk menghantui Kita. Seperti yang tersirat dalam kisah sepasang suami-istri yang sudah dikaruniai seorang anak berumur satu tahun hidup dengan bahagia. Mereka memelihara seekor anjing yang begitu setia.

Sejak dari pacaran sampai sudah dikaruniai anak, anjing ini telah menjadi bagian dalam hidup mereka. Sebagai teman bermain, penjaga sekaligus pelindung keluarga. Merekapun sangat menyayangi dan mempercayai anjing ini.

Suatu saat kedua suami istri ini keluar rumah dan meninggalkan anak mereka bersama anjing peliharaannya. Namun mereka lupa memberi makan anjing tersebut. Saat pulang, terkejutlah mereka dengan tetesan2 darah yang berserakan dilantai. Kaget, takut, khawatir bercampur aduk dalam benak mereka langsung berlari menuju kamar.

Di depan pintu kamar, duduk anjing peliharaan mereka dengan mulut yang masih meneteskan darah segar. Histeris, kedua suami-istri berteriak. Si istri terduduk lemas dengan isak tangis, sedangkan sang suami langsung mengambil kursi yang ada diruangan, dan menghantamkannya bertubi-tubi ke kepala anjing mereka. Si anjing seolah pasrah menerima nasibnya tanpa berusaha menghindar, hingga akhirnya mati.

Dengan perasaan hancur dan tangis yang semakin menjadi, kedua suami istri itu pun berpelukan. Dalam hati mereka tidak menyangka telah kehilangan sang buah hati dan anjing peliharaan bersamaan. Dengan langkah lunglai, keduanya memasuki kamar. Dan betapa kagetnya mereka saat melihat anak mereka tertidur pulas diatas ranjang, sedangkan disamping ranjang tergeletak seekor ular yang sudah mati berlumuran darah.

Mereka baru sadar, ternyata anjing peliharaan mereka telah melindungi anak mereka dari ancaman si ular.

Mereka sangat menyesali perbuatannya tetapi apa mau dikata semua sudah terlambat.

Kisah diatas mengingatkan kita tentang pentingnya disiplin yang dibalut naluri dalam pengendalian diri. Kita harus selalu membiasakan untuk tidak ceroboh dalam bertindak karena penyesalan selalu datang terakhir dan biasanya datang terlambat saat semua sudah berakhir. Setiap langkah Kita akan membawa konsekuensi masing-masing yang harus Kita bayar, dengan beberapa cara, cepat atau lambat. Ingatlah, disiplin sehari-hari beratnya hanya beberapa ons dalam "beban hidup", sementara penyesalan seumur hidup bisa terasa seperti menimbang jutaan ton "Mimpi buruk".

Rasa lelah sampai berkeringat untuk memelihara disiplin dan pengorbanan tidaklah seberapa dibandingkan dengan rasa sakit dan penyesalan karena kelambanan kita merespon situasi dengan benar.

Beberapa dari Kita mungkin telah dengan senang hati menemukan pentingnya disiplin untuk menghindari penyesalan yang tidak berkesudahan. Melalui pengalaman dan pembelajaran dalam hidup ini, tidak ada yang kebal terhadap rasa penyesalan. Namun seringkali keangkuhan, ketidaktahuan, atau kombinasi keduanya menjadi alasan pembenar, sehingga Kita benar-benar tidak peduli jika Kita mengklaim salah satu atau keduanya sebagai alasan terjadinya masalah yang Kita hadapi.