Cari Blog Ini

Rabu, 18 Januari 2017

Tarian Hening Batang Gelagah

Aku masih duduk terpaku. Membisu. Memandang riuh-riuh kecil ombak pantai yang menyapa butir-butir pasir putih di tepiannya. Sesekali kuambil salah satu cangkang kerang yang berserakan di sekelilingku, lalu kulemparkan cangkang itu ke arah laut. Bunyi kecipaknya nyaris tak terdengar. Kulihat sebatang gelagah, tegak menjulang di bibir sebuah telaga yang hampir kering. Batangnya bergoyang tertiup hembusan angin, meliuk ke sana ke mari menuruti irama sepoi - sepoi. Hanya sebatang saja diantara gelagah – gelagah lain yang telah lama layu dan mati. Gelagah – gelagah muda belum lagi muncul. Dia hanya sendiri, namun dalam sepinya terus bergerak, meliuk tanpa keluh dan kesah.


Saat tiupan angin yang keras membuat sang gelagah menunduk, terlihat bayangan dirinya tercermin dalam beningnya genangan air telaga, memantulkan keheningan dirinya yang tak merasa sepi. Butiran – butiran benih di pucuknya terlihat seperti mata yang melihat tarian dirinya yang gemulai diiringi senyuman bersama hembusan angin segar. Tak ada penonton yang memberikan tepukan meriah, tak ada suara sorakan gempita. Tak ada aku dan kamu yang memperhatikannya. Namun ia tetap meliuk. Ia tetap menari. Ia menari untuk mensyukuri hadiah hari ini dan hari kemarin. Ia mempersembahkan tariannya hari ini buat hari esok.

Ah, betapa sering aku menantikan orang lain memberikan kata-kata motivasi yang tak pernah muncul. Betapa sering aku melimpahkan semua masalahku pada sesuatu di luar diriku. Betapa aku sering lupa, kalau aku harus mengerti diriku sendiri lebih dari pada dimengerti oleh orang lain, bahwa aku harus mencintai diriku sendiri lebih dahulu sebelum aku dicintai orang lain.

Aku harus belajar menari – seperti batang gelagah di bibir telaga itu – walau tak seorangpun bertepuk tangan memberikan sorakan. Aku harus lebih mampu mengaktualisasikan diriku dalam waktu yang tidak lama, selalu bisa menikmati, mensyukuri setiap karunia yang telah aku miliki.

Terima kasih batang gelagah yang gemulai, yang hidup dalam jangka waktu sebentar. Engkau telah mengajarkan aku tentang berartinya hidup, untuk lebih mencintai dan dicintai dalam hidupku.