Cari Blog Ini

Jumat, 17 Februari 2017

Rahasia Si Untung

Salah satu karakter komik Disney yang kita kenal, mengungkapkan sisi keberuntungan seseorang melalui tokoh Gladstone. Si untung Gladstone tidak bersedia untuk membuat usaha sedikit pun untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa memberinya keberuntungan, dan, bila ada yang salah, ia mengundurkan diri segera, yakin bahwa di langkah berikutnya, akan dijatuhkan dompet oleh orang lewat, menunggunya untuk mengambil keberuntungan itu. Berlawanan dengan karakter Donald yang digambarkan selalu sial. Si Gladstone ini dikisahkan untung terus, selalu ada saja keberuntungan yang menghampirinya. Mengagumkan memang, betapa enak hidupnya : tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donald.
Bilamana Gladstone dan Donald berjalan bersama, tiba-tiba saja si Untung menemukan sekeping uang dijalan. Untuk sejumlah keberuntungan konyol yang ditemukannya, Gladstone memiliki pencapaian yang patut dibanggakan, meskipun terlihat sangat malas dan tidak memiliki ambisi atau panggilan yang benar dalam hidupnya. Padahal sesungguhnya dia tidak mampu membuat perencanaan jangka panjang. Semua ini bertentangan dengan prinsip kerabatnya Gober Bebek, yang juga mampu mengambil keuntungan dari peluang namun melalui kerja keras untuk menciptakan situasi yang menguntungkan baginya. Tokoh Gober mengungkapkan karakter yang penuh motivasi bersama dengan ambisi dan kebanggaannya yang besar untuk mewujudkan kekayaan dengan usahanya sendiri.

Lalu apakah cerita tokoh si Untung ini benar-benar ada dan apakah ada ilmu orang beruntung ? Ada, salah satunya teori Professor Richard Wiseman yang telah dibukukan dengan judul “The Luck Factor”. Penasaran dengan ilmu keberuntungan Prof Wiseman ? Mari kita gali lebih dalam bagaimana sang Professor meneliti hal-hal yang membedakan orang - orang beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Dalam penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 (dua) menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja ! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada empatpuluhtiga gambar di koran ini“. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!“ Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar-benar sial.

Kesimpulan penelitian ilmiah Wiseman mengungkapkan cara baru yang radikal dalam memandang keberuntungan sebagai salah satu hal yang berperan penting dalam kehidupan kita. Pekerjaan Wiseman menunjukkan keadaan tentang nasib baik dan buruk yang kita temui adalah hasil dari pikiran dan perilaku manusia. Proyek ini juga menunjukkan bagaimana skeptisisme dapat memainkan peran positif dalam kehidupan masyarakat. Bagaimana peristiwa keberuntungan memiliki pengaruh dramatis atas hidup kita ? Keberuntungan memiliki kekuatan untuk mengubah hal yang mustahil menjadi mungkin, membuat perbedaan antara hidup dan mati, penghargaan dan penghinaan, kebahagiaan dan putus asa. Penelitian Wiseman bukan hanya membongkar pemikiran dan perilaku takhayul. Sebaliknya, hal ini mendorong orang untuk menjauhi cara berpikir tentang keajaiban, menuju pandangan yang lebih rasional mengenai keberuntungan. Wiseman mengarahkan kita untuk menggunakan ilmu pengetahuan dan skeptisisme agar lebih mampu meningkatkan tingkat keberuntungan, kebahagiaan, dan keberhasilan dalam kehidupan masyarakat.
Singkatnya, dari penelitian yang diklaimny
a “scientific“ ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial, yaitu :

1. Sikap terhadap peluang.
Bagaimana orang beruntung menyikapi keadaan ternyata membawa kondisi yang lebih terbuka terhadap peluang. Kepekaan mereka lebih terasah dalam mendeteksi adanya kesempatan. Orang beruntung pandai dan terampil menciptakan, melihat dan bertindak terhadap setiap kesempatan yang mendatangkan peluang. Mereka melakukan ini dengan berbagai cara, termasuk membentuk jaringan, mengadopsi sikap yang santai untuk hidup dan dengan menjadi lebih terbuka terhadap setiap pengalaman baru. Mereka lebih terbuka saat berinteraksi dengan orang-orang yang baru dikenal, hingga berhasil menciptakan jaringan-jaringan sosial yang baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yang ditemukannya.
Gambaran sikap orang beruntung ini dapat kita ambil dari kisah Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York. Suatu hari ia berjalan melewati Hotel Plaza di New York ketika ia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya, "Mr. Buffett !" Helzberg bertanya-tanya apakah orang ini mungkin Warren Buffett - salah satu investor paling sukses di Amerika. Helzberg tidak pernah bertemu Buffett, tetapi dia telah membaca tentang kriteria keuangan yang Buffett gunakan ketika akan membeli sebuah perusahaan. Helzberg saat itu berusia enam puluh, sedang berpikir untuk menjual perusahaannya, dan menyadari bahwa tokonya mungkin termasuk jenis perusahaan yang akan menarik minat Buffett. Helzberg merebut kesempatan, berjalan ke orang asing itu dan memperkenalkan diri. Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung.

2. Menggunakan intuisi keberuntungan dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Selain itu, mereka mengambil langkah-langkah untuk secara aktif meningkatkan kemampuan intuitifnya, misalnya, bermeditasi dan membersihkan pikiran mereka dari pikiran yang lain. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya berasal dari “gut feeling“. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.


Disinilah menurut saya, letak "benar" yang bertemu dengan "betul" dalam suatu peristiwa. Intuisi merupakan wujud dari olah fikir jernih yang diperoleh setelah kita menemukan diri Kita yang sejati. Intuisi berhubungan dengan kemampuan batin untuk memperoleh pengetahuan tanpa bukti – bukti ilmiah, atau penalaran sadar, atau tanpa memahami bagaimana sebuah pengetahuan diperoleh. Apakah intuisi masuk melalui telinga ? Melalui mata ? Melalui perasaan ?

Memahami intuisi cenderung subyektif, mungkin saja ada orang yang mendengar suara, melihat sesuatu atau merasakan isyarat. Karena sesungguhnya intuisi sering muncul dalam berbagai bentuk, yaitu :

-     Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Ketika saya suka merasa tiba-tiba senang dan ingin melakukan perjalanan belajar dan tugas ke luar negeri. Saya selalu merasa excited ketika melihat dan mendengar teman – teman yang bercerita tentang pengalamannya ke Luar Negeri. Beberapa tahun kemudian saya ternyata pergi belajar ke Australia. Dan beberapa tahun kemudian, saya berangkat tugas ke Timur Tengah.
-     Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Mata gue yang sebelah kiri atas kok tiba-tiba kedut-kedutan ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat-isyarat tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba-tiba meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba-tiba meriang lagi.
-     Isyarat dari luar. “Follow the omen” demikian kalau kata Paulo Coelho di buku the Alchemist. Baca “isyarat-isyarat” dari luar yang datang pada Anda. Saya juga beberapa kali mengalami. Misalnya bawahan saya mengatakan berulangkali tentang kemungkinan saya kembali ditempatkan dalam penugasan di satuan yang sama. Dan ternyata hal ini benar – benar membawa keberuntungan setelah lima tahun kemudian saya kembali bertugas dan bertemu dengan bawahan saya tersebut. Oleh karena itu tidaklah salah, jika akhir-akhir ini Anda sering melalui rumah mewah di sebuah kompleks elit, anda berucap syukur dan barangkali itu menjadi suatu pertanda.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.


4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit“. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.


Sekolah Keberuntungan


Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Saya yakin Anda semua sudah beruntung dan tidak perlu bersekolah di Luck School. Tapi ada baiknya mengintip sedikit, latihan - latihan apa yang diberikan di Luck School.

Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka sering mengabaikan hal-hal yang positif di sekitar mereka. Misalnya salah satu pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita single parent, yang sangat sial. Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos menceritakan setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya memperoleh pasangan, sudah ketemu pria yang cocok tapi si pria jatuh dari motor, di lain kesempatan si pria jatuh dan patah hidungnya, sudah hampir menikah, gereja nya terbakar, dan sebagainya. Pokoknya benar - benar sial. Padahal, dalam setiap interview, si wanita datang membawa dua orang anak yang sangat lucu - lucu dan sehat. Sebagian besar dari kita akan merasa sangat beruntung memiliki dua anak tadi. Tapi tidak bagi si wanita sial tadi. Karena dua anak lucu tadi tidak ada dalam pikiran si wanita, yang otaknya sudah penuh dengan “kesialan”.


Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang - orang semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary“, buku harian keberuntungan. Setiap hari, wanita tadi harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, semakin mereka akan sadari betapa mereka beruntung. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Bilamana Kita telaah kembali empat prinsip dasar keberuntungan Wiseman, kuncinya adalah selalu bersyukur. Orang beruntung senantiasa terampil membesarkan kemampuan bersyukurnya dengan menciptakan dan memperhatikan peluang kesempatan, membuat keputusan beruntung dengan mendengarkan intuisi, membuat "self-fulfilling prophecy" melalui harapan positif, dan mengadopsi sikap tangguh yang mengubah nasib buruk menjadi baik. Kunci kedua adalah pandai dalam mengelola waktu untuk menghindari kerugian, yaitu dengan sealu beriman, beramal saleh serta selalu ingat mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk Anda. Siap mulai menjadi si Untung hari ini?